Edukasi

Anak nakal, Salah siapa ?

Dalam kehidupan sehari-hari dapat dipastikan bahwa semua orang tua mengharapkan anaknya tumbuh sehat, berbudi baik, dan taat pada ajaran agama. Namun demikian, tidak sedikit dari orang tua yang mempunyai sikap sebaliknya. Anak-anak ditelantarkan dan dibiarkan dan dibentuk oleh lingkungannya. Hasilnya anak pun sulit diatur.
Ada juga yang ingin menannamkan keluhuran dalam jiwa dan kebagusan moral pada anak-anak, tetapi tidak pernah memberikan keteladanan bagi upaya tersebut. Wajar jika kumudian tercetak anak-anak nakal yang meresahkan orang tua, bahkan masyarakat.
Untuk itu, perlu beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membina anak-anak supaya tidak nakal, yaiu faktor prinsip, keteladanan dan lingkungan. Ketiga faktor tersebut sebisa mungkin harus diperhatikan oleh orang tua.

Faktor Prinsip.
Prinsip orang tua dalam membina anak-anaknya amat menetukan. Segala arus pemikiran yang muncul dewasa ini menawarkan berbagai alernatif sikap dan tindakan. Parameter nilainya pun berbeda-beda. Baik dan buruk seakan sekadar istilah untuk membedakan dua kondisi.
Saat orang tua meyakini ideology yang bernama kebebasan, maka ia memiliki tolok ukur tentang benar-salah dan baik-buruk yang sesuai dengan ideologinya tersebut. Penerapan prinsip semacam ini dalam jiwa anak yang sedang tumbuh berkembang, tentu mempunyai kesan yang kuat terhadap mereka. Segala pemikiran kebebasan berfikir dan berbuat akan menancap kuat dalam diri mereka.
Demikian pula, ketika orang tua mendidik anak-anaknya dengan prinsip Islam akan membawa dampak yang khas. Tolok ukur baik-buruk atau benar salah yang telah jelas dalam rangkaian Islam, semua akan menjadi rangkaian nilai yang harus terus dipegang. “Inilah jalan Rabb-mu (jalan) yang lurus” (QS. Al_an’am:126)
Ibnu Mas’ud pernah menceritakan, sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad dan Nasa’I bahwa Rasulullah SAW membuat garis dengan tanggannya seraya bersabda kepada kami, “Inilah jalan Allah yang lurus.” Kemudian beliua bersabda, “Inilah jalan-jalan yang tak satu pun terlepas dari intaian setan yang menyesatkan.” Kemudian beliau membaca ayat Allah, “Dan (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan_nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-An’am: 153).
Berbekal prinsip dari Allah dan Rasul-Nya, niscaya manusia tidak akan menyimpang dalam perkembangan hidupnya. Mereka dibimbing kepada fitrahnya yang lurus, sebab tak satu pun ajaran Islam melawan sifat dasar manusia. Sebaliknya jika manusia mengambil prinsip dari luar Islam, akan membawa manusia pada penyimpangan fitrahnya.
Wajar, jika seorang anak takut mencontek saat ulangan hanya karena dia yakin Allah mengawasinya, bukan karena takut kalau ketahuan guru yang sedang mengawasi, karena sejak kecil orang tuanya mendidik dengan prinsip Islam.

Faktor Keteladanan
Bagaimana pun orang tua mendidik anaknya dengan prinsip yang sempurna, namun tidak disertai dengan keteladanan oleh orang-orang disekitarnya –terutama orang tua- maka hal tersebut merupakan hal yang sia-sia. Islam sangat memperhatikan faktor qudwah (keteladanan). Rasulullah SAW adalah oarang pertama yang melaksanakan ajarannya. Beliau bukan hanya memberi teori dan rumus,namun lebih dari itu, beliau adalah seorang guru sekaligus qudwah terbaik bagi setiap yang diajarkannya. “Sesungguhnya, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari akhir dan dia banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Anak-anak akan lebih banyak berinteraksi kepada faktor qudwah ini. Mereka akan lebih terkesan pada apa yang dilihat daripada yang didengar. Meskipun seorang ibu menasehati anak gadisnya agar menjaga hijab tatkala keluar rumah, namun jika ia sendiri mencontohkan yang sebaliknya maka si anak pun akan mencontoh ibunya (yang tidak berhijab) ketika keluar rumah.
Boleh dikatakan, faktor qudwah ini merupakan faktor yang efektif . kalaupun anak menjadi nakal, bisa dipastikan ada contoh yang memicunya.

Faktor Lingkungan
Lingkungan merupakan faktor berikutnya yang sangat berperan dalam mendidik manusia. Seorang bayi yang ditinggalkan di hutan akhirnya diasuh oleh seekor srigala, akan bertingkah seperti srigala yang melingkunginya, sekalipun anak itu anak orang baik-baik.
Bgaimanapun bagusnya prinsip dan keteladanan yang dimiliki orang tua di rumah, namun saat tinggal di lingkungan yang buruk, anak-anak akan terkena dampak buruknya juga. Kalupun anak tidak diajarkan tindakan buruk oleh lingkungannya, tapi paling tidak anak akan terbiasa dengan keburukan yang akhirnya akan melemahkan kepekaan si anak terhadap hal-hal yang buruk.
Tak berlebihan jika Islam memandang amat penting masalah lingkungan ini, karena manusia selalu berada di sebuah lingkungan. Apalagi zaman sekarang sangat sulit membentuk lingkungan yang kondusif untuk perkembangan anak. Lingkungan yang shalih lebih mungkin diterapkan dalam kondisi masyarakat yang sudah sepakat dalam parameter nilai dan memahami pentingnya pembinaan sejak dini. Namun, ada kalanya kita temukan dalam masyarakat yang majemuk tak ada kesepakatan tentang baik dan buruk. Dalam kondisi ini tentu permasalahan akan lebih banyak muncul.
Kalaupun televise di rumah kita hanya dihidupkan pada acara-acara tertentu yang bermanfaat bagi perkembangan anak, namun televisi tetangga hhidup terus-menerus selama 24 jam. Anak-anak kita akan mudah datang kerumah tetangga tersebut untuk menonton TV dengan alasan belajar bersama, atau bahkan tanpa alasan.
Tidak ada pilihan lain, bahwa lingkungan adalah faktor pembentuk kepribadian yang harus selalu diperhatikan.

Kembali ke Orang Tua.
Pendidikan anak adalah amanah orang tua. Dengan demikian, semua orang tua harus mempunyai visi untuk mendidik anak-anaknya supaya menjadi lebih baik. Walaupun gaya pendidikan orang tua pasti berbeda-beda, tapi sebagai muslim tentu kita harus memilih Islam untuk mendasari prinsip pendidikan anak-anak